by

Struktur Berita Piramida Normal

Dari namanya, Piramida Normal – kita sudah bisa menduga bentuk struktur berita ini. Bentuk struktur berita ini seperti piramid yang dikenal di Mesir, kerucut di atas dan melebar ke bawah. Ini bermakna hal-hal tidak penting ditaruh di atas dan semakin ke bawah, semakin tinggi derajat penting fakta berita tersebut.

 

Seperti juga nasib Piramida Terbalik Kubus, struktur berita Piramida Normal juga jarang diperkenalkan kepada wartawan pemula dengan alasan yang sama, yaitu khawatir wartawan pemula kebingungan dengan konsep struktur berita lainnya, terutama struktur Piramida Terbalik yang merupakan favorit bagi para jurnalis.

Perhatikan gambar struktur berita Piramida Normal.

Penggunaan struktur berita Piramida Normal memang harus hati-hati dan harus memiliki kesepakatan dengan editor atau redaksi. Hal ini berkaitan dengan penyediaan ruang atau halaman untuk menampung tulisan tersebut. Jika tulisan berstruktur berita ini diperlakukan terhadap berita biasa atau yang berstruktur Piramida Terbalik, maka akan terjadi kekacauan berita ketika dipotong dari bawah. Justru bagian bawah merupakan bagian terpenting dari berita atau tulisan ini.

Dalam praktiknya, penggunaan struktur berita ini tidak murni menerapkannya. Ada campuran antara stuktur berita yang dicampur dengan Piramida Terbalik dan Piramida Terbalik Kubus, yaitu menggunakan lead sebagai pengantar untuk memberikan gambaran apa yang akan dibahas atau ditulis. Terkadang, pada lead dicantumkan hal-hal tidak penting, tetapi dalam neck dan tubuh berita dimuat fakta-fakta pentng yang memiliki derajat yang sama dengan tubuh berita lainnya.

Dari penelusuran karya-karya jurnalistik, maka struktur berita Piramida Normal sering digunakan pada karya jurnalistik beraliran (mazhab) Jurnalistik Sastra. Gaya bertutur Sastra dicampur dengan lead suspend atau penundaan jawaban atas gagasan atau peristiwa yang sedang ditulis. Karena itu, pembaca yang menikmati berita atau tulisan jenis ini sering sekali merasa sedang membaca sebuah karya Sastra, dengan fakta dan peristiwa yang memang terjadi, bukan fiksi atau karangan.

Tentu saja, wartawan dan editor harus memiliki alasan kuat atas penggunaan struktur berita Piramda Normal. Wartawan dan editor / redaksi harus sepakat tentang efek apa yang akan dicapai dengan penyajian berita atau tulisan berstruktur tersebut.

Perhatikan contoh yang diambil dari Majalah Tempo, 30 Maret 2014. Lead berita ini mengunakan lead stakato dan diikuti dengan uraian dengan gaya tutur yang baik.

 

Padang Hitam Tanjung Leban

Api membakar hutan dan perkebunan Riau. Melumpuhkan aktivitas penduduk.

Gunawan memandangi puing hitam rumahnya. Dari rumah kerabatnya di Dusun bukit Lengkung, Desa Taunjung Leban, Kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis, Rai, tempatnya menginap setelah rumahnya dihanguskan api sebulan lalu, ia bisa melihat reruntuhan itu.

Lelaki 22 tahun ini, tak akan lupa petaka pada malam itu. Bunyi keretak batang-batang sawit yang terbakar terdengar jelas di telinga. Entah darimana datangnya, kobaran api telah merambat hingga belakang rumah. Kebun dengan sawit siap panen pun menyala. “ Api seperti neraka,” katanya pekan lalu.

Dusun yang dulu rapat oleh hijau sawit dan akasia itu berubah menjadi sahara hitam. Asap mengepul dari bara yang masih menyala. Malam itu, Gunawan sigap mengamit lengan anak dan istrinya, menyalakan sepeda motor otomatis, lalu memacu kendaraan tersebut menuju Dusun Barak Aceh, tujuh kilometer dari rumahnya.

Gunawan kemudian balik ke kampungnya, bergabung dengan penduduk yang berusaha menjinakkan api. Tapi malam itu angin bertiup kencang. Air di parit pun surut. Bunga-bunga api terus berterbangan ke udara, dalam sekejap melalap kebun akasia yang terpisah oleh jalan desa. Gunawan tak bisa melihat lagi rumahnya, yang telah dikepung api.

Kepala Pemadam KebakaranBadan Penanggulangan Bencana Daerah Bengkalis, Muhammad Jalan menyatakan, tak semua warga dusun bersedia diangkut ke tempat pengungsian. Padahal api berkobar tepat di belakang perkampungan. “Begitu melihat rumah terbakar, baru mereka mau pergi,” ujarnya.

Tiga regu pemadam kebakaran kocar-kacir. Dikepung api yang tak terkendali, sebagian dari 21 anggota regu berlari menyelamatkan diri. Mesin-mesin penyemprot air yang belum sempat dimatikan, mereka tinggalkan begitu saja. Dalam semalam, kata Jalal, 1.500 hektare lahan sawit rakyat dan kebun akasia milik PT Satria Perkasa Agung habis terbakar. Tiga rumah dan satu madrasah hangus. Sebanyak 221 warga dusun Bukit Lengkung diungsikan.

Jalal mengatakan, kebakaran sudah terjadi dalam skala kecil sejak 17 Januari lalu. Api tak hanya membakar hutan, tapi juga perkebunan, bahkan kebun-kebun milik rakyat yang sudah siap panen. “Tapi malam ini yang paling besar,” katanya.

Kebakaran malam itu memekatkan udara Riau selama pekan-pekan berikutnya. Saking pekatnya udara, PT Angkasa Pura menutup Bandara Sultan Syarif Kasim II selama tiga hari. Tak kurang dari 86 penerbangan dari dan ke Pekanbaru dibatalkan karena jarak pandang hanya seribu meter.

Betty Sibarani, 20 tahun, mantan pengacara menyatakan, adiknya yang baru memasuki sekolah dasar terpaksa tinggal di rumah dalam satu bulan terakhir. Sekolah meliburkan siswa-siswanya untuk waktu yang tak ditentukan. Jika udara membaik, murid-murid diminta masuk kembali. Meski hanya tinggal di rumah yang dilengkapi fasilitas penyejuk udara, pernapasannya tetap terganggu. “Tiap malam dia batuk-batuk,” katanya.

Betty mengaku hampir membatalkan lamaran di rumah orangtuanya di Padang Bulan, Pekanbaru, gara-gara bandara ditutup. Padahal 30 tiket untuk keluarga calon suaminya sudah dipesan. Lamaran akhirnya hanya dihadiri calon suami dan calon mertuanya, di tengah kepungan kabut asap dan bau sangit sampah terbakar. “Bernapas pun yang terhiurp asap,” katanya.

Direktur Eksekutif Scale Up, Harry Oktavian memilih mengirim istri dan dua anaknya ke Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Ia sendiri tetap tinggal di Pekanbaru karena kantor tak meliburkan pegawainya. Tahun-tahun sebelumnya, jika kabut asap sudah mulai mengganggu, ia dan banyak rekannya mengungsi ke Padang. “Tapi kali ini Padang juga tertutup asap,” ujarnya.

Indeks pencemaran kualitas udara di sejumlah wilayah Riau mencapai level berbahaya. Kabut asap lebih dominan dibandingkan oksigen. Sebanyak 56.288 wargta Riau terserang penyakit karena terpapar asap. “Riau sudah tidak layak huni,” kata ahmad Isroil, Kepala Bidang Inventarisasi dan Pengembangan Sistem Informasi Lingkungan, Pusat Pengelola Ekologi Regional sumatera, kementrian Lingkungan Hidup. (Kartika Chandra dari Jakarta, Ryan Novianti dari Bengkalis)

Perhatikan karya jurnalistik di atas. Hal penting berita berada di bagian paling bawah, yaitu Riau sudah tidak layak dihuni oleh manusia. Tetapi cara penulisan dengan Piramida Normal dan digabung dengan Piramida Terbalik Kubus menimbulkan efek yang sangat bagus bagi pembaca, yaitu mengetahui cerita tentang asap akibat kebakaran kebun sawit dan akasia yang menimbulkan bencana bagi warga Riau.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed